Pepaya California Lebak Penuhi Pasar Lokal

0
220

MUSIM kemarau yang cukup panjang, tampaknya tidak memberikan dampak yang sangat berarti bagi warga yang melakukan budidaya tanaman pepaya california. Bahkan sejak dua bulan terakhir, pepaya california asal Kabupaten Lebak selama dua bulan terakhir memenuhi pasar buah lokal.

Tanaman pepaya yang memiliki nama latin (carica papaya) merupakan tanaman yang berasal dari Mexico bagian selatan dan Nikaragua. Kemudian tanaman pepaya meluas dan dibudidayakan di negara-negara tropis termasuk Indonesia. Tanaman ini memang gampang tumbuh, dengan media tanah berhumus campur pasir, cukup sinar matahari dan drainase baik, tanaman pepaya dapat tumbuh subur.

Varietas pepaya ini termasuk jenis unggul dan berumur genjah, pohon/batangnya kerdil/lebih pendek dibanding jenis papaya lain, tinggi tanaman sekitar 1,5-2 meter dan sudah bisa dipanen setelah berumur 8- 9 bulan.
Pohonnya dapat berbuah hingga umur mencapai empat tahun. Dalam satu bulan bisa dipanen sampai empat kali. Sekali panen setiap pohon pepaya california dapat menghasilkan 2 hingga 3 buah dengan sekali panen setiap minggu bisa mencapai berkisar 1,9 hingga 3,6 ton per hektare.

Pepaya california merupakan hasil rekayasa atau pemuliaan Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, seorang ilmuwan dari Pusat Kajian Buah Tropika, Institut Pertanian Bogor (IPB), bersama para ilmuan IPB, melalui penelitian di berbagai daerah untuk mengumpulkan bibit buah-buahan unggul.

Salah satu jenis buah yang dikumpulkan adalah buah pepaya. Jenis pepaya di daerah sangat banyak. Dari puluhan jenis buah pepaya unggul itu, Prof. Sriani dan para peneliti lantas mengadakan riset untuk mengembangkan jenis pepaya unggul tersebut. Hasil riset itu menghasilkan pepaya varietas unggul, seperti pepaya arum, pepaya prima, pepaya carisya, pepaya sukma, dan pepaya callina.

Jenis pepaya yang kini dikenal dengan pepaya california, aslinya diberi nama pepaya callina atau diberi kode riset IPB-9. Namun, setelah buahnya dijual ke pasar, pedagang lebih suka menyebutnya pepaya california.

Sejumlah keunggulan pepaya california seperti rasanya yang manis, dagingnya tebal dan lembut, tidak benyek, warnanya merah, dan tidak mengeluarkan aroma pepaya yang khas itulah yang menarik minat warga untuk membudidayakannya.

Salah seorang petani pepaya warga Warunggunung, Yana menyatakan, pilihannya untuk membudidayakan pepaya california karena selain keunggulan rasa, pepaya jenis itu juga tidak terlalu terpengaruh pada musim.

”Meski saat ini memasuki musim kemarau, tetapi produksi pepaya jenis ini di wilayah Warunggunung justru masih panen. Apalagi, tanaman pepaya di sini rata-rata masih usia remaja antara 9 sampai 11 bulan sehingga produktivitas cukup tinggi. Untuk panen kali ini, semua produksi pepaya dipasok ke sejumlah bandar penampung di Pasar Rangkasbitung. Kami bisa memasok untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal sekitar satu sampai dua ton per pekan,” kata Yana (50) kepada Kabar Banten, beberapa waktu lalu.

Begitu juga Suhari (45), seorang petani di Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Menurutnya, saat ini produksi pepaya california mulai panen sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal juga Pasar Induk Caringin Bandung,Jawa Barat hingga empat ton per pekan.

”Dari hasil panen itu kami bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp 16 juta, jika dikalkulasikan harga Rp 4.000/kg dengan jumlah empat ton itu. Panen kami cukup lumayan menguntungkan karena tidak terserang hama,” ucap Suhari.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan, saat ini petani pepaya mampu memasok pasar lokal juga luar daerah. Saat ini, produksi pepaya bisa mencapai puluhan ton per pekan.

Menurut dia, selama ini permintaan pepaya jenis ini cukup tinggi karena petani mengembangkan perkebunan pepaya menggunakan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik menguntungkan, selain lahan subur juga tahan terhadap serangan hama.

“Kami mendorong petani terus meningkatkan produktivitas sehingga Lebak ke depan sentra penghasil pepaya california dan memenuhi permintaan pasar domestik,” tutur Kadistanbun Dede. (Nana Djumhana)*

Artikel Asli