Gubernur Banten Dukung Potensi Manggis dan Kopi

0
53
Gubernur Banten Wahidin Halim melakukan dialog dengan petani manggis di Kampung Margahayu, Bojong Kabupaten Pandeglang

Gubernur Banten Wahidin Halim mendukung potensi manggis dan kopi sebagai aset pertanian Banten berhasil menembus pasar ekspor. Mendengarkan keluhan dan hambatan dari petani langsung dilakukan untuk mampu turut memberdayakan dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Di salah satu sentra produksi buah manggis Kampung Margahayu Desa Bojong, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Gubernur WH melakukan dialog dengan petani dan penyuluh pertanian buah manggis (09/07/2019). Turut mendampingi Kepala Dinas Pertanian Agus M Tauchid dan Kepala Badan Pendapatan Daerah Opar Sohari.

“Berapa harga manggis pada musim panen kemarin?” tanya Gubernur Banten kepada petani dan penyuluh pertanian.

“Kemarin harga terendah Rp 2500 per kilogram sudah petik atau dalam peti untuk manggis kualitas terendah. Sedangkan harga tebas di pohon Rp 5000 per kilogram,” jelas salah satu petani.

“Harga yang bagus kan? Karena manggis Banten sudah diekspor ke China,” ungkap Gubernur WH.

Pesan ajaran agama Islam turut disampaikan Gubernur WH menanggapi model jual beli tebas di pohon. Gubernur menganjurkan untuk menjual buah manggis yang sudah dipetik karena sesuai ajaran agama Islam serta lebih jelas jual belinya dan saling menguntungkan.

Gubernur WH juga menyoroti jalan desa yang menjadi akses masuk ke kebun buah manggis. Menurutnya akses masuk terlalu sempit, sehingga menawarkan pelebaran jalan desa yang menjadi akses ke kebun buah manggis itu di salah satu sentra penghasil buah manggis Kabupaten Pandeglang itu.

“Jalan masuknya sempit, hanya tiga meter. Silakan dimusyawarahkan. Idealnya jalan masuk 6 meter, kalau perlu 10 meter,” ungkapnya.

“Setelah disepakati, silakan dipatok. Saya siap bantu,” tegas Gubernur WH.

Ditemani singkong rebus dan buah pisang, dialog dengan para petani jauh dari kesan formal. Bahkan sambil bercanda, Gubernur WH juga sempat berdialog dengan salah satu ASN yang bertugas di salah satu SMKN Kabupaten Pandeglang.

“Berapa pendapatan bulanan yang diterima saat ini?” tanya Gubernur WH.

“Kalau gaji ditambah tukin (tunjangan kinerja, red) bisa Rp 10 juta Pak Gubernur,” jawabnya.

“Jangan lupa berkurban. Gaji Rp 10 juta, kurbannya Rp 6 juta, biaa dua atau tiga kambing. Biar gajinya berkah,” pesan Gubernur WH.

Sebagai informasi, awal tahun ini sebanyak 93 ton buah manggis asal Kabupaten Pandeglang diekspor. Sedangkan untuk pasar dalam negeri sebanyak 714 ton dikirim antar wilayah seperti Jakarta,Surabaya, Makasar, dan kota besar lainnya.

Data Dinas Pertanian Pemprov Banten, produksi manggis Pandeglang mencapai 122,445 ton dari 136.506 pohon yang menghasilkan. Adapun sentra utama manggis di Pandeglang berada di 6 kecamatan yaitu Kecamatan Bojong, Saketi, Cisata, Menes, Picung dan kcamatan Carita.

Total pohon manggis yang menghasilkan di Provinsi Banten mencapai 299.595 pohon dengan sentra utama berada di Kabupaten Pandeglang dan Lebak.

Secara nasional, Provinsi Banten menempati posisi ke 10 sebagai daerah produsen buah manggis.

Adapun upaya yang dilakukan terhadap petani buah manggis yakni pengembangan kawasan dan penataan kebun, perbaikan mutu produk dan registrasi kebun, penguatan sistem perlindungan tanaman, penguatan sistem informasi, penguatan kelembagaan, penanganan pasca panen serta akselerasi akses pembiayaan/kemitraan serta promosi.

Tahun ini Gubernur Banten memberikan perhatian pada aspek hilir yaitu memberikan bantuan kepada petani Manggis Pandeglang dengan pembangunan bangsal pasca panen Manggis dan Pengembangan Tanaman Manggis di Pandeglang. Sehingga Provinsi Banten sudah mampu memenuhi permintaan pasar internasional dan pasar dalam negeri.

Gubernur Banten Wahidin Halim ingin mendengar langsung keluhan dan hambatan yang dihadapi petani kopi

Kopi Banten

Usai dialog dengan para petani manggis, Gubernur Banten melanjutkan perjalanan menuju Desa Wanagiri, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang untuk melakukan dialog langsung dengan para petani kopi.

Menurut Gubernur WH, Banten memiliki potensi hasil kopi jenis robusta dan arabika.

“Saya bertemu dengan para petani kopi untuk mendengarkan keluhan-keluhan mereka secara langsung. Ini merupakan aset pertanian Banten yang harus diberdayakan dan dikembangkan,” jelasnya kepada wartawan.

“Tidak hanya di Pandeglang, tetapi juga di Serang serta Lebak. Kopi Cap Kupu-kupu dari Lebak sudah terkenal sejak lama,” pungkas Gubernur WH.

Sebagai informasi, perkebunan kopi di daerah Banten berada di kawasan Gunung Karang, Gunung Asepan, dan Gunung Pulosari. Menurut data Dinas Pertanian Provinsi Banten kebun kopi di banten mencapai 6.468 hektare. Tersebar di wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, bahkan Kota Serang.

Produksitivitas kopi Banten baru 400 kilogram per hektare per tahun. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten pada tahun 2009-2014, produksi kopi di Banten mencapai 2.200 sampai dengan 2.600 ton per tahun.

Dinas Pertanian Pemprov Banten memiliki program pengembangan komoditas kopi mulai dirancang tahun 2018. Salah satu programnya, mendukung petani dengan memberikan bibit unggul yang merupakan khas kopi Banten. Juga membantu lahan petani kopi yang kondisinya tidak terurus.(msa)