Trekking ke Sanghyang Sirah

53

Sanghyang Sirah terletak di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Di TNUK ada jalur trekking para peziarah dari Pos Legon Pakis di Desa Ujung Jaya, Sumur Kabupaten Pandeglang hingga ke peziarahan di Goa Sanghyang Sirah.

Pagi itu, Kota Serang cerah. Bertiga dari Kota Serang berkendara motor ke arah selatan menuju Desa Ujung Jaya Kecamatan SUmur Kabupaten Pandeglang, desa terdekat untuk masuk ke TNUK. Persiapan trekking ke TNUK tidaklah serumit aktivitas mendaki gunung (hiking). Baju ganti, perlengkapan pribadi, topi, sepatu atau sandal gunung, lampu senter dan power bank. Musim kemarau menjadikan kami percaya diri untuk tidak membawa jas hujan atau payung, yang penting bekal air minum.

Sebenarnya, perjalanan ke Desa Ujung Jaya bisa ditempuh dengan angkutan umum (elf) dari Terminal Pakupatan Kota Serang. Pilihan pada sepeda motor adalah agar lebih praktis dan fleksibel saat dititipkan di rumah penduduk atau pemandu wisata setempat. Juga menjadikan kami bisa lebih menikmati perjalanan.

Rute yang dipilih Kota Serang – Pandeglang – Saketi – Labuan – Panimbang – Tanjung Lesung – Sumur – Ujung Jaya. Pemilihan rute pinggir pantai, pertimbangannya semata ingin sering – sering menengok pantai barat Wilayah Selatan Banten yang indah sebagai jalur wisata.

Perjalanan ditempuh dengan tidak tergesa untuk menghemat tenaga dan menikmati suasana. Dua motor melaju dengan kecepatan maksimal 70 km per jam. Tak ayal, jarak sekitar 145 km ditempuh dalam waktu hampir sehari. Jelang Ashar sampai di Kecamatan Sumur. Sampai di Desa Ujung Jaya sudah lepas Ashar, matahari sudah tampakkan rona merahnya.

Banyak tempat istirahat yang bisa dipilih. Yang utama POM Bensin Panimbang untuk isi penuh BBM agar tidak beli BBM eceran. Pilihan lainnya persimpangan Sumur – Panimbang – Ujung Kulon. Di sini ada dua minimarket yang bersebarangan dan beberapa rumah makan, pas untuk kenyangkan perut.

Dari Kota Serang, berkendara ke arah selatan hanya akan menjumpai tiga lampu alat pengatur lalulintas (APL). Yakni Persimpangan Kebon Jahe, Persimpangan Sempu, dan Persimpangan Palima. Sedangkan di Kabupaten Pandeglang hanya akan menjumpai satu lampu pengatur lalu lintas di Persimpangan Maja.

Jalan raya dari Kota Serang hingga beberapa kilometer lepas Tanjung Lesung jalan sudah bagus, variasi antara aspal hotmix dan cor semen. Mendekati Kecamatan Sumur, waktu itu masih dalam proses pematangan untuk dicor semen. Dari persimpangan Sumur arah Ujungjaya sekitar lima kilometer sudah dicor semen. Namun setelah itu jalan tanah hingga Desa Ujungjaya.

Menapak di pasir Pantai Cibandawoh menuju Gunung Payung yang nampak kebiruan di sisi kiri atas.

Desa Wisata

Bagi wisatawan yang memilih jalur laut, cukup sampai di Desa Taman Jaya. Di desa ini tersedia pemandu (guide), pembawa barang (porter), dan penyewaan perahu menuju TNUK. Sebelum menempuh perjalanan, pemandu dan kepala rombongan bakal ke Pos Legon Pakis di Desa Ujung Jaya untuk membeli tiket sekaligus lapor dan ijin ke petugas.

Sementara bagi wisatawan yang memilih jalur darat bisa langsung ke Desa Ujung Jaya sekaligus memangkas jarak tempuh trekking. Masyarakat di dua desa ini ramah dan murah senyum. Bersedia menjawab pertanyaan kita yang bertanya di pinggir meski mereka sedang sibuk bekerja di sawah.

Di Desa Ujung Jaya, kami menuju rumah salah satu pemandu yang direferensikan oleh seorang kawan, Pohani (35 th). Di sela pekerjaan utama sebagai petani penggarap sawah, Pohani menjadi pemandu (guide) bagi wisatawan yang ingiin masuk ke TNUK. Pohani juga biasa bekerjasama dengan Sarman (40 th), sang kakak yang berperan sebagai pembawa barang (porter) sekaligus juru masak bagi wisatawan yang ingin trekking ke Semenanjung Ujung Kulon. Meski bukan pemandu resmi, kapasitas mereka diakui oleh para petugas TNUK.

Tanpa basi-basi, tujuan trekking 3 hari 2 malam ke Sanghyang Sirah di TNUK kami ungkapkan. Dari situlah meluncur obrolan tentang perkiraan waktu serta perbekalan yang dibutuhkan. Dari sini pula muncul hitungan jasa pemandu, pembawa barang, dan perkiraan belanja perbekalan.

Sosok seperti Pohani dan Sarman jauh dari aji mumpung. Mereka juga berusaha menakar kemampuan dompet dan fisik kita untuk trekking. Sejauh pengunjung jujur dengan kemampuan dompet maupun kondisi fisiknya, mereka tidak akan merasa tertipu dengan kesepakatan yang telah dicapai.

Usai kesepakatan dijalin, sore itu pula kami langsung ke Pos Legon Pakis untuk membeli tiket sekaligus lapor dan ijin untuk masuk TNUK. Harga tiket per hari untuk pengunjung lokal di hari biasa Rp 5000, di hari libur Rp 7500. Tiket sudah termasuk asuransi. Saat membeli tiket, petugas mencatat identitas kita, tujuan, berapa lama, serta siapa pemandunya.

Lepas maghrib, bersama Pohani belanja perbekalan di warung setempat. Beras, mie instan, kopi, gula, susu sachet, biskuit, garam, cabe, kecap, dan kebutuhan pribadi lainnya dibeli. Hitungannya, jumlah peserta ditambah pemandu dan pembawa barang dikali hari.

Meski ngotot untuk masuk ke TNUK selama 3 hari 2 malam, menurut hitungan Pohani kalau lancar idealnya 4 hari 3 malam. Sebagai antisipasi, pemandu menghitung perbekalan 5 orang untuk 5 hari 4 malam.

Jamuan ikan laut berkuah dengan nasi pulen sawah setempat, jadikan tidur kami malam itu cukup pulas alais berkualitas. Jelang tidur, Pohani diberitahukan kearifan lokal selama di Semenanjung Ujung Kulon. Di antaranya: makan dan minum harus duduk, buang kecil tidak boleh berdiri, mandi dengan baju basahan alias tidak bugil, menebang ranting pohon dengan golok, hingga harus selalu ingat Yang Maha Kuasa. Semuanya untuk mencegah hal-hal yang tidak diharapkan ketika trekking.

Yakin Melangkah

Sekitar jam 7.00 pagi rombongan mulai langkahkan kaki. Setelah melewati Pos Legon Pakis, masuk ke TNUK melalui gerbang yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan maupun oleh hewan besar semacam sapi apalagi badak. Menyusuri pantai barat Teluk Paraja sekitar 1,5 jam. Selanjutnya mengarah ke selatan menembus hutan Resort Kalejetan menuju Pos Karang Ranjang.

Jelang Pos Karang Ranjang, debur ombak laut selatan sudah terdengar. Dari Pos Karang Ranjang menyusuri jalur trekking di pinggiran pantai Teluk Keusiklega menuju Pantai Cibandawoh tempat istirahat beberapa nelayan. Di jalur ini, kami sempat berpapasan dengan rombongan petugas yang sedang patroli.

Tantangan selanjutnya adalah berjalan di pasir Pantai Cibandawoh menuju Pantai Cikeusik hingga naik ke tebing Pantai Citadahan. Berjalan di atas pasir pantai jelang tengah hari merupakan tantangan tersendiri. Berjalan di atas pasir dan panas bakal menguras tenaga. Pilihannya adalah memilih jalur di pasir basah bekas ombak, tentunya tetap waspada untuk terhindar dari basah akibat sambaran ombak laut. Angin yang datang dari arah belakang turut memperingan langkah kami.

Lapang rumput Pantai Citadahan, hanya bisa temui kotoran badak dan banteng.

Tiba di Pantai Cikeusik sudah lewat tengah hari. Ada rumpun pandan laut dengan mata air tawar yang menjadi tempat istirahat di balik gundukan pasir pantai itu. Pemandu dan pembawa barang langsung mengeluarkan katel nasi liwet untuk masak air untuk kopi dan mie instan juga memasak nasi. Sepiring nasi campur mie kuah dengan lauk ala kadarnya serta segelas kopi kembali bugarkan semangat dan tenaga untuk melanjutkan langkah menuju Cigenter.

Hingga ujung Pantai Cikeusik, naik ke tebing karang Pantai Citadahan. Di balik pandan laut, terhampar padang rumput yang setiap saat mendapatkan siraman air dari kabut hempasan ombak air laut yang menerjang tebing pantai. Hanya kotoran badak dan banteng yang kami temui di padang rumput ini. Kotoran badak seratnya kasar seperti kotoran gergaji mesin. Sedangkan kotoran banteng tidak beda dengan kotorang sapi. Badak dan banteng merumput pada waktu tertentu.

Di ujung padang rumput Pantai Citadahan, turuni tebing karang menyeberangi Sungai Cibunar. Di pinggir sungai inilah Pos Cibunar berdiri menghadap ke laut.

Matahari tak pernah ingkar janji, sapa kita di pagi hari. Sunrise di Pos Cibunar.

Jalur Pos Cibunar hingga Sanghyang Sirah adalah jalur naik turun perbukitan di Gunung Payung. Di jalur ini, manfaat topi dan sepatu atau sandal trekking terasa. Bukan sekedar untuk bergaya.

Diawali dengan mendaki, dilanjut dengan menyusuri punggung sisi Gunung Payung. Selanjutnya menuruni lembah yang di bawahnya ada aliran sungai kecil yang jernih dan saung istirahat yang beratap dan beralaskan daun di sisi sungai. Air sungai yang bisa langsung diminum serta untuk menambah bekal air minum.

Dari lembah kembali naik untuk menyusuri punggung bukit dan turun menuju Pantai Tanjung Sanghyang Sirah. Di pantai ini ada saung, mushola, dan sungai jernih menyambut pengunjung yang datang ke sini. Aliran sungai yang jernih dan dingin tidak kami siakan untuk bersihkan badan dari keringat dan bau usai naik turun di Gunung Payung. Dari sini sekitar 500 meter memasuki kawasan peziarahan di Goa Sanghyang Sirah.

Berpegang dengan rencana awal, demi mengejar waktu rombongan segera istirahat. Sebelum subuh menempuh perjalan kembali pulang. Tantangan perjalanan pagi adalah menyeberangi Sungai Cibunar saat air laut masih pasang sehingga ombak lauk masuk ke sungai dengan arus baliknya. Pos Cibunar, Pantai Citadahan hingga Pantai Cikeusik ditempuh saat air laut masih pasang. Ombak hingga sampai bibis pantai. Pilihannya jalur pasir basah pun semakin sedikit sehingga semakin menguras tenaga.

Tantangan lainnya dari Pos Karang Ranjang hingga Legon Pakis, perjalanan ditempuh setelah habis maghrib alias dalam kondisi gelap. Sekitar pukul 21.00 wib, rombongan sampai di Desa Ujung Jaya.

Habitat Badak

Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata alam yang dapat di lakukan di lokasi ini antara lain trekking, berkemah dan mengamati hewan liar. Kawasan TNUK secara administrative terletak di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Provinsi Dati I Jawa Barat kini Provinsi Banten menjadi Taman Nasional dengan nama TNUK. Luas kawasan TNUK adalah 122.956 Ha.

Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah Krakatau. Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991. sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini. (msa/dew)

Comments are closed.