Syiar Akhlakul Karimah Dari Kawasan Kesultanan Banten

52

Pemerintah Provinsi Banten targetkan revitalisasi Kawasan Kesultanan Banten selesai pada 2020. Langkah wujudkan visi “Banten Berakhlakul Karimah,” menjadikan Kawasan Kesultanan Banten sebagai pusat peradaban, pusat kebudayaan, dan pusat perkembangan ilmu pengetahuan.

Beberapa kegiatan penting Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kota Serang sudah digelar di kawasan ini sejak 2018.

“Tahun 2020, Kawasan Banten Lama harus sudah selesai. Sudah lengkap,” tegas Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) dalam sambutan Doa dan Dzikir bersama Gubernur, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Banten, serta masyarakat di Plaza Masjid Agung Banten Kawasan Kesultanan Banten, Kasemen Kota Serang (Kamis, 14/03/2019).

Kawasan Keraton Kesultanan Banten merupakan ikon Provinsi Banten yang sudah mendunia. Pengunjung berbondong-bondong dari berbagai penjuru tanah air Indonesia bahkan dunia, berkunjung ke Kawasan Kesultanan Banten. Sejak awal berdiri, Kesultanan Banten mampu menjadikan diri sebagai simpul perdagangan dan pergerakan manusia di ujung barat Pulau Jawa.

Akses mudah – Kualitas jalur Kramatwatu – Tasikardi – Kawasan Kesultanan Banten tak kalah dengan jalur utama Jalan Raya Banten. Banyak pilihan jalur menuju Kawasan Kesultanan Banten dengan jalan hotmix ataupun cor semen.

Sebagai ikon Provinsi Banten, Gubernur WH bercita-cita menjadikan Kawasan Kesultanan Banten sebagai pusat peradaban, pusat kebudayaan dan pusat perkembangan ilmu pengetahuan agama, bagi Provinsi Banten maupun bagi nusantara. Selama ini baru dua fungsi yang diemban Kawasan Kesultanan Banten, yaitu sebagai tempat ziarah dan tempat rekreasi.

“Selain itu, saya akan menjadikan Banten Lama sebagai kawasan kajian agama, kajian kitab Syech Nawawi Al-Bantani, pusat pengembangan tahfid, dan pusat kebudayaan Islam,” jelasnya.

Karena itu, tambah Gubernur WH, pada tahun 2020 Kawasan Banten Lama sudah dilengkapi dengan pusat-pusat kajian Islam, pusat-pusat pengembangan tahfid, dan pusat kebudayaan Islam.

“Kita syiarkan Islam mulai dari Kawasan Kesultanan Banten,” ajaknya kepada ribuan masyarakat yang memadati Plaza Masjid Agung Kawasan Kesultanan Banten.

Gubernur WH juga memerintahkan segera menyelesaikan sarana dan prasarana penunjang di Kawasan Kesultanan Banten. Sebagai tempat yang banyak dikunjungi masyarakat, Kawasan Kesultanan Banten harus memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya.

“Segera bangun fasilitas-fasilitas seperti tempat wudhu, tempat istirahat, tempat selfi, tempat oleh-oleh, dan lain-lain. Sebagai tuan rumah, kita harus menyajikan pelayanan,” katanya.

Gubernur WH juga perintahkan kepala OPD untuk segera mengkonsepkan perannya masing-masing di Kawasan Kesultanan Banten. Segera membuat konsep pengembangan budaya, pengembangan UMKM di Kawasan Kesultanan Banten sesuai tugas pokok OPD masing-masing.

Masyarakat sekitar juga diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan para tamu. Masyarakat sekitar harus mampu mengembangkan kreativitasnya.

“Misalnya, yang punya rumah segera memperbaikinya. Karena bisa dijadikan home stay atau sarana lainnya,” ungkap Gubernur WH.

Menurut Gubernur WH, revitalisasi Kawasan Keraton Kesultanan Banten merupakan upayanya merealisasikan visi untuk membawa masyarakat Provinsi Banten yang Berakhlakul Karimah.

Konsep Terintegrasi

Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pariwisata akan mengintegrasikan Kawasan Kesultanan Banten (KKB) dengan kawasan lain di sekitarnya. Hal itu dilakukan agar masa tinggal pengunjung KKB lebih lama.

“Konsep penataan harus berangkat dari karakteristik Kawasan Kesultanan Banten. Kita ketahui bersama karakteristik wisata di Kawasan Kesultanan Banten lebih banyak menonjolkan soal wisata religi. Artinya, tujuan utama pengunjung datang ke Kawasan Kesultanan Banten adalah untuk ibadah dan ziarah,” ujar Kepala Bidang Destinasi Pariwisata pada Dinas Pariwisata Provinsi Banten Paundra Bayyu Ajie.

Dinas Pariwisata Provinsi Banten menawarkan konsep dalam bentuk rencana detail kawasan. Yaitu dengan menyediakan atau membuat paket wisata di sekitar Kawasan Kesultanan Banten, sehingga pengunjung bisa lebih lama tinggal di Kawasan Kesultanan Banten.

Beberapa konsep yang ditawarkan adalah perlu dibuat sebuah kawasan yang menjual berbagai kuliner khas Banten atau pasar kuliner. Tarif yang ditawarkan penyedia kuliner harus disesuaikan dengan pasar dan daya beli pengunjung. Jangan lupa juga soal penataan pasar kuliner.

Selain itu, menata kawasan tanaman mangrove di seberang Pelabuhan Ikan Karangantu. Meskipun lahan di kawasan tersebut berlumpur, tetapi tetap bisa dimanfaatkan untuk sarana wisata, dengan menyediakan jogging track yang terbuat dari papan kayu.

Di kawasan tersebut akan disiapkan tempat ibadah dan tempat istirahat. Pemprov Banten sudah mengajukan permohonan pengunaan lahan kepada pihak TNI Angkatan Laut sebagaipemilik lahan.

Konsep lainnya, optimalisasi wisata pulau. Seperti diketahui, di sekitar Pelabuhan Karangantu terdapat beberapa pulau yang dapat ditempuh dengan menggunakan perahu. Hanya, sejauh ini perahu-perahu tersebut tidak memiliki pelabuhan khusus, sehingga harus bergabung dengan pelabuhan ikan.

Ke depan, pengelola juga menyiapkan kendaraan khusus di Kawasan Kesultanan Banten. Melalui kendaraan itu, pengunjung Kawasan Kesultanan Banten bisa berkeliling ke berbagai kawasan, seperti Keraton Kaibon, Masjid Pecinan, Benteng Speilwijk, dan kawasan wisata pantai di sekitar Pelabuhan Karangantu dengan tarif yang terjangkau.

Langkah lainnya, pengelola menyediakanhomestay bagi para pengunjung KKB. Konsep homestay yang dikembangkan adalah tidak menambah bangunan baru. Namun memanfaatkan perumahan warga yang masih ditinggali pemiliknya.

Para pemilik rumah cukup menyediakan salah satu kamar untuk disewakan kepada pengunjung. Pemilik rumah juga tidak perlu menambah berbagai fasilitas, sehingga menyebabkan biaya tinggi.

Akses Mudah

Akses menuju kawasan Keraton Kesultanan Banten tidaklah sulit. Jalan menuju Kawasan Keraton Kesultanan Banten cukup lebar, sesama kendaraan besar semacam bus tidak kesulitan ketika berpapasan di jalur ini. Layaknya jalan utama di Provinsi Banten, jalur menuju kawasan ini sudah jalan beton dan hotmix.

Dari arah timur, melalui tol Tangerang – Merak keluar di Pintu Tol Serang Timur. Keluar pintu tol tidak bisa langsung belok kanan ke jalan Armada, mesti berputar dulu melalui Taman Tugu Debus, Kemang masuk ke Jalan Jenderal Sudirman. Selanjutnya kembali masuk ke akses jalan Pintu Tol Serang Timur dan belok kiri masuk jalan Armada. Dari jalan Armada lanjut terus ke Jalan Ayip Usman. Sampai ujung jalan ini, belok kiri masuk Jalan Raya Banten. Setelah sampai jembatan Sungai Cibanten belok kiri. Jembatan ini mudah ditandai dengan warna warni catnya yang mirip pelangi.

Di jalur ini, keseharian masyarakat Kota Serang sedikit banyak terpotret. Demikian pula dengan wajah dan kemajuan pembangunan di Kota Serang.

Dari arah barat melalui tol Tangerang Merak, ada dua pilihan. Pilihan pertama keluar di Pintu Tol Serang Barat belok kanan masuk Jalan Raya Cilegon arah Kota Cilegon. Setelah sampai lampu merah alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang belok kanan masuk Jalan Tasikardi Banten Lama. Pilihan kedua, keluar di Pintu Tol Cilegon Timur, belok kanan masuk Jalan Raya Cilegon arah Serang. Sesampai di lampu merah alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang belok kanan masuk Jalan Tasikardi Banten Lama.

Di jalur ini, Serang yang dalam bahasa Indonesia adalah sawah, unjuk diri bagaimana suburnya kawasan Serang.

Di jalur ini pula terdapat Danau Tasikardi yang menjadi salah bukti kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan Kesultanan Banten dalam penyediaan air bersih untuk Keraton Kesultanan Banten dan warganya yang berada di pesisir pantai utara Pulau Jawa. (msa/ian)

Comments are closed.