Menikmati Banten Lama Baru

0
353
Serombongan peziarah ibu-ibu dan anak-anaknya menikmati suasana baru pelataran Masjid Agung Banten

Berubah! Itulah kesan pertama ketika memasuki kawasan Keraton Kesultanan Banten, biasa dikenal Banten Lama. Revitalisasi, hadirkan suasana baru kawasan ini.

Pagi itu rombongan ibu-ibu dan anak-anak nampak menikmati teduhnya payung besar di pelataran Masjid Agung Banten di Kawasan Keraton Kesultanan Banten. Beberapa anak nampak menikmati palatara baru Masjid Agung Banten. Mereka lari berkejaran di sekitar orang tuanya dengan penuh canda tawa.

Pelataran yang luasnya sekitar 1,4 hektar itu, kini sudah dilapisi dengan keramik berkualitas tinggi. Ketika terkena sinar matahari, keramik-keramik itu tidak mengeluarkan panas tinggi. Selain itu berdiri pula delapan payung besar model payung Masjid Nabawi di Kota Madinah, Kerajaan Saudi Arabia. Payung-payung itu bakal mengurangi sengatan matahari di sing hari ataupun terpaan air hujan terhadap para peziarah.

Di sisi lain, dua lelaki tua asyik berbincang di bawah rindang pohon angsana yang berdiri tegak di taman samping Keraton Surosuwan Banten. Kicau burung perkutut sesekali menyela perbincangan mereka.

Sementara itu sepasang kakek dan nenek nampak bahagia mendorong kereta bayi dimana cucunya tengah tertidur pulas. Sementara sang anak dan menantu mengikutinya dari belakang. Dua keluarga bahagia itu nampak asyik menyusuri akses jalan Masjid Agung Banten di samping Keraton Surosuwan yang telah dipaving blok.

Taman di sisi Keraton Kaibon pas untuk bangun kebersamaan dengan keluarga

Berubah. Itulah kesan pertama ketika memasuki Kawasan Keraton Kesultanan Banten yang berada di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Revitalisasi Banten Lama yang dicanangkan oleh Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Andika Hazrumy, meski belum tuntas sudah menampakkan perubahan.

Revitalisasi Kawasan Keraton Kesultanan Banten, menjadikan kawasan ini semakin ramah dengan para pengunjung atau peziarah. Banten Lama baru kini semakin asri, tertib, bersih, serta nyaman. Menyusuri jalur menuju Masjid Agung Banten dan makam para Sultan Banten dan kerabatnya, kini tidak lagi seperti menyusuri lorong pasar.

Kawasan Keraton Kesultanan Banten sejak lama telah menjadi bagian dari rangkaian tujuan (destinasi) para peziarah walisongo. Masjid Agung Banten dan makam para Sultan Banten menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai daerah untuk berkunjung atau berziarah.

Masjid Agung Banten dengan menaranya yang khas, hingga kini masih kokoh berdiri dan terawat. Di kawasan masjid ini pula dimakamkan para Sultan Banten dan kerabatnya. Di antaranya: Sultan Maulana Hasanudin (Putera Syech Syarif Hidayatullah Cirebon), Maulana Yusuf, Maulana Muhammad, Maulana Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir dan Maulana Abul Maali Ahmad.

Berdasarkan data dari Pemerintah Kota Serang, jumlah pengunjung ke Kawasan Keraton Kesultanan Banten pada hari biasa berkisar antara 1000 hingga 2000 orang per hari. Namun pada hari libur dan hari besar agama Islam, pengunjung bisa mencapai 3000 hingga 4000 orang per hari.

Semenjak pembenahan, kawasan Keraton Kesultanan Banten hadirkan banyak tempat (spot) bagi kalangan muda ataupun ibu-ibu untuk swafoto maupun foto bersama. Sajikan latar belakang swafoto dan untuk foto bersama dengan latar belakang atau suasana yang indah dan beda. Selain itu, keberadaan taman dan ruang terbuka menjadikan kawasan ini cocok untuk dikunjungi bersama keluarga ataupun secara berombongan.

Di lingkungan Masjid Agung Banten, pelataran masjid menjadi tempat swafoto yang menarik dan beda. Payung besar dan pelataran berkeramik, suasana yang terbangun serasa di Masjid Nabawi Madinah. Payung-payung besar itu kini menjadi bagian identitas baru Masjid Agung Banten, melengkapi menara dan kubah masjid yang berbentuk limas sebagai identitas lama. Terlebih ketika malam hari, lampu yang menyorot tiang payung besar bisa berubah-rubah warna seperti pelangi.

Taman terbuka di sekeliling Keraton Surosowan dengan akses jalan yang lebar, bersih, serta bebas dari pedagang, menghadirkan perasaan dan suasana bebas di tempat terbuka. Menjadi tempat yang cocok untuk swafoto. Pohon kurma, bunga, bangku taman dan lampu taman pas untuk berfoto dengan latar belakang Masjid Agung Banten ataupun berlatarbelakang dinding Keraton Surosowan yang anti meriam.

Dinding anti meriam Keraton Surosowan yang super tebal pun bisa didaki melalui jalur tangga di samping pintu masuk Keraton Surosowan. Berfoto di ketinggian bisa hadirkan latar belakang taman di Keraton Surosowan dan suasana di pelataran Masjid Agung Banten.

Tepi kanal di sisi kanan dan belakang Keraton Surosowan menjadi lokasi yang pas untuk bersantai dan berfoto bersama dengan kerabat dan sahabat. Pagi atau sore hari, tempat ini terasa beda. Kabut ataupun semburat sinar matahari yang lolos dari hadangan rindang pepohonan taman memberikan suasana yang beda.

Pagi hari di sisi Kanal Banten, serasa di belahan dunia lain.

Akses Mudah

Akses menuju kawasan Keraton Kesultanan Banten tidaklah sulit. Jalan menuju Kawasan Keraton Kesultanan Banten cukup lebar, sesama kendaraan besar semacam bus tidak kesulitan ketika berpapasan di jalur ini. Layaknya jalan utama di Provinsi Banten, jalur menuju kawasan ini sudah jalan beton dan hotmix.

Dari arah timur, melalui tol Tangerang Merak keluar di Pintu Tol Serang Timur. Keluar pintu tol tidak bisa langsung belok kanan ke jalan Armada, mesti berputar dulu melalui Taman Tugu Debus, Kemang masuk ke Jalan Jenderal Sudirman selanjutnya kembali masuk ke akses jalan Pintu Tol Serang Timur dan belok kiri masuk jalan Armada. Dari jalan Armada lanjut terus ke Jalan Ayip Usman. Sampai ujung jalan ini belok kiri masuk Jalan Raya Banten. Setelah sampai jembatan Sungai Cibanten belok kiri. Jembatan ini mudah ditandai dengan warna warni catnya yang mirip pelangi.

Di jalur ini, keseharian masyarakat Kota Serang sedikit banyak terpotret. Demikian pula dengan wajah dan kemajuan pembangunan di Kota Serang.

Dari arah barat melalui tol Tangerang Merak, ada dua pilihan. Pilihan pertama keluar di Pintu Tol Serang Barat belok kanan masuk Jalan Raya Cilegon arah Kota Cilegon. Setelah sampai lampu merah alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang belok kanan masuk Jalan Tasikardi Banten Lama. Pilihan kedua, keluar di Pintu Tol Cilegon Timur, belok kanan masuk Jalan Raya Cilegon arah Serang. Sesampai di lampu merah alun-alun Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang belok kanan masuk Jalan Tasikardi Banten Lama.

Di jalur ini Serang yang dalam bahasa Sunda ketika terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah sawah, unjuk diri bagaimana suburnya kawasan Serang. Di jalur ini, juga ada Danau Tasikardi yang menjadi salah bukti kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan Kesultanan Banten dalam menyediakan air bersih untuk Keraton Kesultanan Banten dan warganya yang berada di pesisir pantai utara Pulau Jawa.(msa)