Kemiskinan di Banten Turun 14.280 orang

0
182
sumber: Berita Statistik BPS Provinsi Banten No.38/07/36/Th.XIII

Angka kemiskinan di Provinsi Banten pada Maret 2019 mengalami penurunan dibanding enam bulan sebelumnya. Penurunan juga terjadi pada tingkat kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan. Bahan makanan masih berperan besar terhadap rumah tangga berada di bawah garis kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten melalui Berita Resmi Statistik (BRS) merilis data angka kemiskinan Provinsi Banten. Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret 2019, kemiskinan di Provinsi Banten sebesar 5,09 persen. Mengalami penurunan sebesar 0,16 poin dibanding periode sebelumnya September 2018 yang mencapai 5,25 persen.

Selama enam bulan terjadi penurunan sebesar 0,16 poin (dari posisi 5,25 persen) atau turun sebanyak 14,28 ribu orang. Dari 668,74 ribu orang pada September 2018 menjadi 654,46 ribu orang pada Maret 2019.

Persentase penduduk miskin di Banten pada bulan Maret 2019 mencapai 5,09 persen.
Dilihat dari kewilayahan, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan yang pada September 2018 sebesar 4,24 persen. Turun menjadi 4,12 persen pada Maret 2019. Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 3,4 ribu orang. Dari 382,13 ribu orang pada September 2018 menjadi 378,73 ribu orang pada Maret 2019.

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 7,67 persen. Turun menjadi 7,49 persen pada Maret 2019. Jumlah penduduk miskin di perdesaan turun sebanyak 10,9 ribu orang. Dari 286,60 ribu orang pada September 2018 menjadi 275,73 ribu orang pada Maret 2019.

Komoditi makanan makanan memiliki peranan lebih besar terhadap Garis Kemiskinan dibandingkan peranan komoditi non makanan seperti: perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Pada Maret 2019, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan tercatat sebesar 71,66 persen. Sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi September 2018 yang mencapai 71,60 persen.

Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan Maret 2019 di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, serta roti.

Sementara komoditi non makanan penyumbang terbesar Garis Kemiskinan di perkotaan dan perdesaan adalah sama yaitu biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.

Secara umum, periode 2002–2019 tingkat kemiskinan di Banten cenderung menurun baik dari sisi jumlah maupun persentase. Kecuali, pada tahun 2006, September 2013, Maret 2015, September 2017 dan September 2018. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak.

Garis Kemiakinan Garia Kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

Selama periode September-Maret 2019, Garis Kemiskinan naik sebesar 2,80 persen, yaitu dari Rp 450.108,- per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp 462.726,- per kapita per bulan pada Maret 2019.

Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK) yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM), dapat dilihat bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non makanan, yang terdiri dari perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.

Sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2019 adalah sebesar 71,66 persen, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan September 2018 yang sebesar 71,60 persen.

Pada Maret 2019, beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar Garis Kemiskinan baik di perkotaan (18,29%) maupun di perdesaan (24,61%). Keempat komoditi makanan lainnya penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah rokok kretek filter(15,62%), telur ayam ras (4,03%), daging ayam ras (3,37%) dan mie instan (2,60%).

Sedangkan di daerah perdesaan, empat komoditi makanan penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan secara berturut-turut adalah rokok kretek filter (15,76%), telur ayam ras (2,93%), roti (2,42%) serta daging ayam ras sebesar 2,37%.

Sementara komoditi non makanan pemberi sumbangan terbesar untuk Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan sama. Kelima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah biaya perumahan (9,19%), bensin (5,11%), listrik (3,59%), pendidikan (1,62%) dan perlengkapan mandi (1,20%).

Di perdesaan lima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan (10,84%), bensin (2,67%), listrik (1,83%), perlengkapan mandi (1,14%) dan biaya pendidikan sebesar 1,07%.

sumber: Berita Statistik BPS Provinsi Banten No.38/07/36/Th.XIII

Pada periode September 2018-Maret 2019, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) keduanya mengalami penurunan.

Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 0,908 pada September 2018 menjadi 0,763 pada Maret 2019. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,250 menjadi 0,176 pada periode yang sama. Penurunan nilai kedua indeks tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami penurunan baik di perkotaan maupun di perdesaan. Di perkotaan nilai P1 turun dari 0,684 pada September 2018 menjadi 0,628 pada Maret 2019, nilai P2 turun dari 0,157 menjadi 0,145 pada periode yang sama. Sementara di perdesaan nilai P1 turun 0,348 poin dan nilai P2 turun 0,074 poin.

Menurut BPS Provinsi Banten, beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Provinsi Banten selama periode September 2018 – Maret 2019 antara lain:
1. Laju pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2019 sebesar 5,42 persen, sedikit lebih rendah dibanding laju pertumbuhan ekonomi Triwulan III 2018 (5,89 persen), meskipun tidak berkorelasi langsung.
2. Persentase penerima raskin/rastra yang didominasi oleh kelompok pengeluaran penduduk 40 persen terbawah sudah mencapai 57,01 persen.
3. Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2019 sebesar 100,14 lebih tinggi dibanding September 2018 sebesar 99,26. NTP di atas 100 menunjukkan tingkat kesejahteraan petani lebih baik.
4. Upah nominal buruh tani per hari pada Maret 2019 naik cukup signifikan yaitu sebesar 3,93 persen dibanding September 2018, yaitu dari Rp 60.692,- menjadi Rp 63.080,-. Sejalan dengan itu, upah riil buruh tani per hari juga mengalami kenaikan sebesar 2,53 persen pada periode yang sama (dari Rp 43.601,- menjadi Rp 44.706,-). (msa)