Banten Eksportir Terbesar Kelima Nasional

0
129
Para buruh industri sepatu bersiap makan siang. Sepatu menjadi salah satu andalan produk ekspor Provinsi Banten sekaligus Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Nasional, Provinsi Banten menempati posisi kelima dengan kontribusi ekspor terbesar keluar negeri tingkat nasional. Peringkat pertama ditempati oleh Jawa Barat, selanjutnya Jawa Timur, Kalimantan Timur, Riau, kemudian Provinsi Banten.

Urutan disusun berdasarkan persentase kontribusi ekspor oleh daerah (provinsi) terhadap ekspor nasional. Dengan rincian: Jawa Barat sebesar 18,23% dari total ekspor nasional, disusul Jawa Timur sebesar 11,56%, Kalimantan Timur sebesar 10,36%, Riau sebesar 7,14%, dan Provinsi Banten sebesar 6,90%.

Menanggapi hal ini, Gubernur Banten Wahidin Halim menyatakan bahwa Provinsi Banten diarahkan untuk memacu pertumbuhan industri orientasi ekspor besar. Khususnya, untuk padat karya maupun industri kreatif/UKM. PIlihan ini diyakini dapat menyerap tenaga kerja di Provinsi Banten.

Dinyatakan, jika salah satu yang memberikan konstribusi terhadap nilai ekspor nasional dari Provinsi Banten adalah produk industri kreatif. Secara nasional, Provinsi Banten masuk urutan ketiga pada kategori tersebut. Urutan pertama Jawa Barat sebesar 33,56%, kedua Jawa Timur sebesar 20,85% dan ketiga Provinsi Banten sebesar 15,6%.

Industri padat karya andalan penyumbang ekspor di Provinsi Banten di antaranya berupa produk alas kaki, elektronik, tekstil. Hal inipun telah menjadi kebijakan Gubernur Banten untuk pengembangan SDM industri melalui program link & match antara industri dengan SMK, saat ini sudah dilakukan 200 pelatihan dari 513 MoU dan tahun ini ditambah dengan target pelatihan sebanyak 10.000 tenaga kerja.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Banten juga terus mendukung penguatan sumber daya manusia (SDM) industri dengan program link and match SMK dengan industri, peningkatan ekspor produk industri kreatif dan produk UMKM.

IPM Tinggi

Gubernur Banten juga menanggapi rilis BPS lainnya terkait kenaikan angka IPM Banten yang capaiannya lebih tinggi dari target RPJMD pada tahun 2018. Baginya, peningkatan ini mengindikasikan bahwa kebijakan dan program pembangunan mampu mendongkrak angka harapan hidup, angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah, serta daya beli masyarakat.

“Saya akan terus upayakan lebih tinggi lagi dan terus kita tingkatkan, angka menunjukkan hasil yang nyata, yang dirasakan masyarakat,” ujar Gubernur Banten.

Terpisah, Kabid Neraca Wilayah pada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Budi Prawoto menyatakan, pembangunan manusia di Provinsi Banten secara konsisten terus mengalami kemajuan.

“Hal ini ditandai dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang pada tahun 2018 mencapai 71,95, atau meningkat 0,53 poin dibandingkan tahun Ialu yang sebesar 71,42. Pertumbuhan tertinggi didominasi oleh komponen Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PKP), sedangkan wilayah dengan IPM tertinggi masih diduduki Kota Tangerang Selatan sebesar 81,17.,” paparnya.

Dikatakan, kemajuan pembangunan manusia Banten pada tahun 2018 mengalami akselerasi atau percepatan. Ditandai oleh pertumbuhan IPM yang mencapai 0,74 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2017 yang hanya 0,65 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa status pembangunan manusia Banten pada tahun 2018, masih tertahan pada level atau kategori “Tinggi”.

“Kategori tinggi tersebut, diperoleh Provinsi Banten sejak tahun 2015 lalu,” jelas Budi.

Dijelaskan, peningkatan IPM di Provinsi Banten terjadi pada semua komponen pembentuk. Dengan pertumbuhan tertinggi untuk komponen Pengeluaran per Kapita Disesuaikan (PKP), sedangkan yang terendah pada komponen Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir. Adapun nilai atau capaian UHH, Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), dan PKP, masing-masing 69,64 tahun, 12,85 tahun, 8,62 tahun, dan 12,0 juta rupiah.

“Meningkatnya IPM Banten terjadi pada seluruh wilayah, dengan IPM tertinggi dan terendah tetap diduduki oleh Kota Tangerang Selatan sebesar 81,17 dan Kabupaten Lebak 63,37,”tutur Budi

Sementara itu di tempat terpisah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten Muhtarom menyampaikan, jika capaian IPM tahun 2018 sebesar 71,95 ini lebih tinggi 0,18 poin dari target RPJMD pada tahun 2018. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan dan program pembangunan yang dicanangkan oleh Gubernur Banten baik itu melalui penggratisan biaya berobat bagi yang tidak mampu, pendidikan gratis untuk pendidikan menengah dan khusus, serta pembangunan infrastruktur yang secara terus berkesinambungan di 2 tahun terakhir ini terbukti mampu mendongkrak angka harapan hidup, angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah.

“Serta daya beli masyarakat yang tercermin dalam lebih tingginya pertumbuhan IPM pada tahun 2018 (0,74%) dibandingkan tahun 2017 (0,65%),”terang Muhtarom. (msa/bah)