Bangkit dan Memulai Hidup Baru

0
108

Melalui Layanan Dukungan Psikososial, Pemerintah Provinsi Banten pulihkan kehidupan sehari-hari warga korban bencana tsunami. Bangkit dan memulai hidup baru.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menganggap penting untuk memulihkan psikis masyarakat korban terdampak tsunami Selat Sunda agar tetap survive. Sebab, trauma akibat kehilangan keluarga dan materi bisa menjadi pencetus lamanya korban bangkit dari imbas bencana.

“Layanan Dukungan Psikososial (LDP) sejak bencana tsunami menerjang pesisir barat Banten sudah diterjunkan. Mereka sudah bertugas di posko pengungsian,” kata Gubernur Banten Wahidin Halim kepada wartawan (23/1/2019).

Nantinya para korban selamat akan didata dan diukur seberapa jauh tingkat traumatiknya. Karena selain ada yang kehilangan keluarga mereka juga secara materi ada yang kehilangan mata pencahariannya juga.

“Penting sekali memulihkan psikis masyarakat. Perahu untuk mencari nafkah dari nelayan banyak yang tercatat rusak. Warung mereka yang biasanya berdagang di pesisir pantai juga banyak yang hilang tergerus tsunami,” kata Wahidin Halim.

Modal awal kita adalah membantu kebutuhan dasar mereka. Rutinitas mereka harus tetap terjaga. Kalau ada warga yang masih bisa menetap di rumah atau di sanak familinya tetap harus bisa memasak atau menjalani kehidupan sehari-harinya dengan syarat pasokan kebutuhan sandang dan pangannya terpenuhi.

Sukma Sandi (34) Petugas Sosial (Peksos) pada Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk korban bencana tsunami Selat Sunda mengatakan, tim yang berada di pihaknya ada sebanyak 10 personil. Petugas LDP secara bergantian terus monitoring di beberapa titik lokasi yang terkena bencana. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi maka yang di tempat pengungsian mereka pun kita dorong untuk kembali melakukan kegiatan tutin layaknya di rumah sebelumnya.

“Kalau beras dan lauknya ada, mereka para korban kita biasakan untuk melakukan kegiatan rutin seperti biasa. Ini salah satu upaya kita mengembalikan psikisnya,” jelas Sukma Sandi. Kami bekerja di bawah koordinasi Dinas Sosial Pemprov Banten. Ada tiga hal yang harus dikerjakan LDP yang terutama pada kategori rentan. Di antaranya kelompok ibu-ibu, lansia dan anak-anak. Dan memastikan mereka mendapat bantuan sandang dan pangan.

Saat ini, kata Sandi, kita sedang mendata kategori traumatik yang diderita para korban. Pasalnya kalau dari awal paska kejadian belum bisa membedakan korban mengalami traumatik mendalam atau tidak. Lantaran semua korban berbarengan khawatir tsunami susulan dan faktor lainnya.

Sehingga sulit menemukan korban yang traumatik. Sekarang ini posisi korban sudah tersebar ada yang di keluarga masing-masing. Setelah terkumpul di hunian sementara (Huntara) layanan psikisosial kembali memberikan pembekalan pemulihan psikis.

Salah satu upaya pendekatan traumatik LDP kepada korban adalah family development seasons (FDS) . Pendekatannya mendorong masyarakat beradaptasi ulang dalam kegiatan sehari-hari, menghilangkan trauma akibat bencana.

“Kita memberikan edukasi kebencanaan, edukasi dampak kebencanaan, sebab ada juga korban yang kasih khawatir datang ke pantai lantaran traumatik tsunami. Sementara mereka harus survive (bertahan). Nah hal seperti ini harus kita asesment, ” tandas Sukma Sandi.

Harus Bangkit

Semangat hidup korban terdampak tsunami terus dikobarkan pemerintah untuk membangkitkan roda kehidupan masyarakat. Salah satunya dengan Doa Bersama di Masjid Salafiah Caringin, Labuan, Kabupaten Pandeglang (03/01/2019). Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto turut menghadiri acara itu.

Dari Forkopimda hadir: Gubernur Banten Wahidin Halim, Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir, Bupati Pandeglang Irna Narulita, Ketua DPRD Banten Asep Rahmatulloh, Pj Sekda Banten Ino S Rawita, Kepala OPD Banten, tokoh masyarakat, ulama dan masyarakat disekitar Kecamatan Caringin.

Doa Bersama dilaksanakan usai sholat dzuhur berjamaah. Doa Bersama dipimpin oleh KH Abuya Muhtadi Cidahu, Kabupaten Pandeglang. “Kita doakan saudara-saudara kita yang sudah wafat dalam keadaan husnul khotimah, syahid dan diberikan alam kubur yang lapang,” ujar Kapolri Tito Karnavian.

Dalam kondisi dilanda cobaan, lanjut Tito, kunci untuk bangkit yakni kebersamaan dalam keberagaman. Saat ini, pemerintah daerah dan pusat bersama sama memberikan bantuan guna memulihkan keadan pasca-tsunami.“Semua harus bergandeng tangan demi rakyat,” tegasnya.

Terima Kasih TNI dan Polri

Gubernur Banten Wahidin Halim juga menyampaikan terimakasihnya kepada Panglima TNI dan Kapolri beserta jajaran atas bantuan yang diberikan paska tsunami Selat Sunda. Hal itu disampaikan Gubernur Banten saat menyambut kedatangan Panglima TNI dan Kapolri di Pondok Pesantren Kananga, Menes, Pandeglang (3/1/2019).

“Saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Panglima TNI, Bapak Kapolri beserta jajarannya ke bawah,” ungkap Gubernur di awal sambutannya. Karena seperti bapak ibu ketahui, lanjut Gubernur, tanpa kehadiran Panglima TNI beserta jajarannya, tanpa kehadiran Kapolri beserta jajarannya, rasanya sampai sekarang belum selesai urusan tsunami
yang ada di Provinsi Banten. “Mereka berjibaku. Mereka berani turun langsung ke lapangan, menerobos langsung jalan-jalan yang terisolasi,” ujar Gubernur WH.

Gubernur Banten juga meminta para kyai untuk mendoakan keselamatan bagi Banten. Agar Banten terhindar dari berbagai musibah dan menjadi tempat tinggal yang baik bagi masyarakatnya. “Saya mohon doa para kyai, agar Banten menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.
Lepas dari musibah. Lepas dari malapetaka. Lepas dari adzab,” pintanya. (yud/mnb)