Wisatawan Asing Belajar Kerukunan & Kedamaian dari Baduy

0
124

Jawara News – Wisatawan asing dari sejumlah negara tertarik mengunjungi Desa Kanekes yang dihuni masyarakat adat Baduy. Wisatawan asing ini tertarik untuk mempelajari budaya masyarakat pedalaman Kabupaten Lebak itu yang dikenal dengan penuh kedamaian juga patuh terhadap adat leluhur dan menolak kehidupan modern.

“Kami sangat senang dapat secara langsung menyaksikan warga Baduy hidup penuh dengan kerukunan dan kedamaian. Hal itu perlu dilestarikan masyarakat dunia,” kata Christine Pheeney, seorang wisatawan asing warga Australia saat mengunjungi Baduy di Kabupaten Lebak, Ahad (2/9). Ia mengemukakan, dirinya mengenal budaya masyarakat Baduy yang tinggal di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten sejak sekolah di bangku SMA. Bahkan, dirinya kini mengunjungi masyarakat Baduy yang kedua kalinya ke Kabupaten Lebak.

Menurut dia, masyarakat Baduy patut diapresiasi karena kehidupan mereka cukup Pancasialis dengan penuh kedamaian, kerukunan juga menghargai nilai-nilai toleransi. ”Selama ini kehidupan masyarakat di pedalaman ini belum pernah terdengar terjadi konflik maupun perpecahan baik antarsesama warga Baduy maupun antara warga Baduy dengan warga luar yang tinggal sekitar permukiman masyarakat adat Baduy. Karena dalam menjalani kehidupannya, mereka lebih mengedepankan kedamaian dan kecintaan terhadap lingkungan alam,” ujarnya.

Selain itu juga kehidupan mereka cukup sederhana dan menolak modernisasi, sehingga permukiman masyarakat Baduy tidak terdapat infrastruktur jalan, jembatan, sekolah, kesehatan, jaringan listrik dan perabotan elektronika. “Kami datang ke sini melakukan penelitian S-2 untuk mengambil makalah Penyelidikan Para Guru Bersama Pancasila. Sebagai guru SD di Australia, saya sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pancasila sehingga mengunjungi masyarakat Baduy. Mengingat kehidupan masyarakat Baduy sangat Pancasialis dengan penuh kedamaian, kerukunan, toleransi di tengah keberagaman perbedaan itu.”Kami berharap penelitian ini berjalan lancar,” ucap mahasiswa Charles Darwin University itu.

Sementara itu, wisatawan asing lainnya warga Prancis Briggite dan Renauld mengatakan, dirinya mengunjungi suku terasing di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten untuk melakukan penelitian sosial tentang kerukunan masyarakat Baduy. Penelitian itu, kata dia, sebagai syarat untuk membuat tesis strata 2 ( S-2). “Kami sangat tertarik dengan kehidupan masyarakat Baduy dengan mempertahankan adat leluhurnya itu,” tutur guru SMA di Kota Paris.

Sementara itu Bupati Lebak Iti Octavia mengatakan, pemerintah daerah kini menggenjot sektor pariwisata guna mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. ”Potensi pariwisata Lebak berpeluang mendunia di antaranya wisata budaya masyarakat Baduy dan Pantai Sawarna. Kita mendorong destinasi wisata budaya Baduy bisa mendunia,” kata Bupati Iti Octavia Jayabaya.

Bupati mengatakan, masyarakat Baduy hidup di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar dengan luas lahan 5.110 hektare yang terdiri dari 3.000 hektare hutan adat dan 2.110 hektare permukiman, serta jumlah penduduk di atas 11.000 jiwa. Masyarakat Baduy Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik menggunakan pakaian putih-putih hingga kini selalu berpergian dengan berjalan kaki tanpa kendaraan, sekalipun ke JawaTimur.

Artikel Asli