Langsung Memetakan dan Bergerak

0
46

Pemerintah Provinsi Banten bergrak cepat dalam pemulihan daerah terdampak bencana tsunami Selat Sunda akhir 2018 lalu. Pemulihan mental dan spiritual korban serta infrastruktur daerah dilaksanakan untuk memulihkan perekonomian masyarakat.

Motto Iman dan Taqwa yang tercantum dalam logo Provinsi Banten menjadi pegangan teguh Pemerintah Provinsi Banten dalam menangani bencana tsunami Selat Sunda. Bantuan kebutuhan dasar fisik dan infrastruktur diimbangi dengan bantuan mental dan spiritual. Kehadiran pemerintah dan negara harus dirasakan warga yang menjadi korban untuk tidak merasa sendirian dalam menghadapi musibah.

“Duka masyarakat adalah duka kami, luka masyarakat adalah luka kami. Masalah ini tanggung jawab bersama. Mudah-mudahan ini memberikan manfaat dan semoga masyarakat diberikan ketabahan dan dijauhkan dari bencana,” ungkap Gubernur Banten Wahidin Halim ketika menyalurkan bantuan seragam sekolah di Kantor Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang (16/01/2018).

“Mari kita tetap semangat. Dengan semangat dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Di balik sebuah musibah pasti ada hikmah yang dapat diambil,” ajak Gubernur WH.

Data Kerugian Material

Kabupatenrumahkendaraan roda
dua (4)
kendaraan roda
empat (2)
Perahuhotel /
villa
Pandeglang 1.03368875625
Serang584084612
jumlah1.0911089510237

sumber: Bappeda Pemprov Banten

Seiring langkah memupuk jiwa dan mental para korban, Pemprov Banten juga memberikan bantuan fisik kepada warga yang menjadi korban terdampak tsunami Selat Sunda.

“Selain membangun hunian sementara, saya dan Ibu Irna (Bupati Pandeglang, red) juga mempersiapkan hunian tetap. Rumah-rumah ibu yang rusak dan hancur hari ini akan kita pindahkan ke tempat yang aman dan tidak jauh dari kegiatan bapak ibu sebagai nelayan,” ujarnya. Warga yang menjadi korban bencana tsunami akan menempati hunian sementara (huntara).

Nantinya akan mendapatkan bantuan hunian tetap berupa rumah dan tanah gratis dari pemerintah. Rumah yang rusak, mendapatkan bantuan dana Rp 15 juta. Sedangkan untuk rumah yang rusak sedang, dilakukan inventarisasi untuk turut merasakan kemaslahatan. Bahkan ketika itu, seiring masuknya musim angin barat usai musibah tsunami, nelayan korban tsunami yang tidak bisa melaut mendapatkan bantuan sembako.

Pemprov Banten juga tidak ingin pelayanan masyarakat melalui pemerintah desa terhenti atau terganggu akibat kantor desa rusak terdampak tsunami. Sebanyak 6 (enam) desa mendapatkan bantuan uang tunai masing-masing Rp 50 juta untuk membangun kantor desa yang terdampak tsunami SelatSunda. Yaitu: Desa Panimbangjaya, Desa Mekarjaya, Desa Gombong, Desa Mekarsari, Desa Citereupdan Desa Tanjung Jaya.

Demikian pula dengan sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan daerah terdampak tsunami, tidak luput dari perhatian Pemprov Banten. Seperti diungkap oleh Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, Pemprov Banten didukung Kementerian Pariwisata untuk menyusun strategi agar wilayah pariwisata yang terdampak tsunami kembali pulih.

Strategi pemulihan pariwisata difokuskan pada tiga pilar pariwisata. Yakni: sumber daya manusia dan kelembagaan, pemasaran, serta destinasi. Untuk SDM dan kelembagaan meliputi: memupuk semangat gerakan sadar wisata, trauma healing guna memulihkan kondisi psikologis masyarakat, pelaku wisata, dan industri. Peningkatan kapasitas usaha masyarakat, serta sertifikasi kompetensi dan relaksasi keuangan pada industri. (msa)