Ketimpangan dan Kemiskinan di Banten Turun

0
33

Buah pembangunan infratruktur di wilayah Banten Selatan hingga bantuan langsung kepada penduduk miskin terlihat pada rasio gini dan angka kmeiskinan di Provinsi Banten. Pada Maret 2019, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Provinsi Banten yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,365. Angka ini turun 0,002 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,367.

Rasio Gini atau koefisien adalah alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk. Ukuran ini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variable tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Kurva ini juga bermanfaat untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh.

Di daerah perkotaan tercatat turun 0,002 menjadi 0,360 pada Maret 2019 dari 0,362 pada September 2018. Di daerah perdesaan bahkan turun 0,005 menjadi 0,294 pada Maret 2019 dari 0,299 pada September 2018.

Pada Maret 2019, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 18,39 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 18,39 persen dan di daerah perdesaan sebesar 21,80 Persen.

Perkembangan Gini Ratio

Salah satu ukuran ketimpangan yang sering digunakan adalah Gini Ratio. Nilai Gini Ratio berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Pada tahun 2010 Gini Ratio Banten tercatat sebesar 0,419. Angka ini terus bergerak turun hingga September 2012 yaitu sebesar 0,384. Pada September 2014 nilai Gini Ratio mencapai angka tertinggi yaitu sebesar 0,424. Kemudian pada periode Maret 2015 – Maret 2019 nilai Gini Ratio menunjukkan kecenderungan menurun hingga mencapai angka 0,365.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,360. Angka ini turun sebesar 0,002 poin dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,362. Untuk daerah perdesaan Gini Ratio Maret 2019 tercatat sebesar 0,294, angka ini turun sebesar 0,005 poin dibanding Gini Ratio September 2018. Nilai Gini Ratio di perdesaan lebih kecil dibandingkan di perkotaan. Artinya ketimpangan pengeluaran penduduk di perdesaan lebih rendah.

Distribusi Pengeluaran

Selain Gini Ratio ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank Dunia. Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12-17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17 persen.

Pada Maret 2019, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 18,39 persen yang berarti Banten berada pada kategori ketimpangan rendah. Persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah pada bulan Maret 2019 ini turun 0,11 poin jika dibandingkan dengan kondisi September 2018 (18,50 persen).

Sejalan dengan informasi yang diperoleh dari Gini Ratio, ukuran ketimpangan Bank Dunia pun mencatat hal yang sama yaitu ketimpangan di perkotaan lebih besar dibandingkan dengan ketimpangan di perdesaan. Persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perkotaan pada Maret 2019 adalah sebesar 18,39 persen sementara persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perdesaan sebesar 21,80 persen. Walaupun keduanya masih berada pada kategori ketimpangan rendah, tetapi di daerah perkotaan hampir mendekati kategori ketimpangan sedang (12-17persen).

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat ketimpangan pengeluaran selama periode September 2018-Maret 2019 di antaranya adalah: pertama, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), tercatat bahwa pengeluaran perkapita per bulan penduduk kelompok 40 persen terbawah mengalami penurunan (-0,11 persen) sementara pengeluaran per kapita per bulan penduduk kelompok 40 persen menengah justru meningkat (0,48 persen).

Kedua, menguatnya perekonomian penduduk kelas menengah (kelompok 40 persen menengah), hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja dengan status berusaha sendiri. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2019, jumlah penduduk bekerja dengan status berusaha sendiri meningkat sebesar 5,78 persen dari 1.004 ribu (Agustus 2018) menjadi 1.062 ribu (Februari 2019).

Kemiskinan Turun

Angka kemiskinan Provinsi Banten hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret 2019 sebesar 5,09 persen, mengalami penurunan sebesar 0,16 poin dibanding periode sebelumnya yang sebesar 5,25 persen. Hal ini sejalan dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin sebanyak 14,28 ribu orang dari 668,74 ribu orang pada September 2018 menjadi 654,46 ribu orang pada Maret 2019.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan yang pada September 2018 sebesar 4,24 persen turun menjadi 4,12 persen pada Maret 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 7,67 persen turun menjadi 7,49 persen pada Maret 2019.

Selama periode September 2018-Maret 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 3,4 ribu orang (dari 382,13 ribu orang pada September 2018 menjadi 378,73 ribu orang pada Maret 2019), demikian pula di daerah perdesaan turun sebanyak 10,9 ribu orang (dari 286,60 ribu orang pada September 2018 menjadi 275,73 ribu orang pada Maret 2019).

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2019, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan tercatat sebesar 71,66 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi September 2018 yang sebesar 71,60 persen.

Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan Maret 2019 di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, serta roti. Sementara komoditi non makanan penyumbang terbesar Garis Kemiskinan di perkotaan dan perdesaan adalah sama yaitu biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.

Perkembangan Tingkat Kemiskinan September 2018-Maret 2019
Persentase penduduk miskin di Banten pada bulan Maret 2019 mencapai 5,09 persen. Jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2018, maka selama enam bulan terjadi penurunan sebesar 0,16 poin (dari posisi 5,25 persen). Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan dan perdesaan mengalami penurunan. Persentase penduduk miskin di perkotaan turun dari 4,24 menjadi 4,12 dan persentase penduduk miskin di perdesaan turun dari 7,67 pada September 2018 menjadi 7,49 pada Maret 2019.

Sejalan dengan penurunan tingkat kemiskinan, jumlah penduduk miskin di Banten pada periode yang sama berkurang sebanyak 14,28 ribu orang dari 668,74 ribu orang pada September 2018 menjadi 654,46 ribu orang pada bulan Maret 2019.

Secara umum, pada periode 2002–2019 tingkat kemiskinan di Banten cenderung menurun baik dari sisi jumlah maupun persentase, kecuali pada tahun 2006, September 2013, Maret 2015, September 2017 dan September 2018. Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Gambar 1 menyajikan perkembangan tingkat kemiskinan Provinsi Banten tahun 2002 sampai dengan Maret 2019.

Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Tabel 2 menyajikan perkembangan Garis Kemiskinan pada periode September-Maret 2019.

Selama periode September-Maret 2019, Garis Kemiskinan naik sebesar 2,80 persen, yaitu dari Rp 450.108,- per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp 462.726,- per kapita per bulan pada Maret 2019. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK) yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM), dapat dilihat bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non makanan, yang terdiri dari perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2019 adalah sebesar 71,66 persen, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan September 2018 yang sebesar 71,60 persen.

Pada Maret 2019, beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar Garis Kemiskinan baik di perkotaan (18,29%) maupun di perdesaan (24,61%). Keempat komoditi makanan lainnya penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah rokok kretek filter (15,62%), telur ayam ras (4,03%), daging ayam ras (3,37%) dan mie instan (2,60%). Sedangkan di daerah perdesaan, empat komoditi makanan penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan secara berturut-turut adalah rokok kretek filter (15,76%), telur ayam ras (2,93%), roti (2,42%) serta daging ayam ras sebesar 2,37%.

Sementara komoditi non makanan pemberi sumbangan terbesar untuk Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan sama. Kelima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah biaya perumahan (9,19%), bensin (5,11%), listrik (3,59%), pendidikan (1,62%) dan perlengkapan mandi (1,20%). Di perdesaan lima komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan (10,84%), bensin (2,67%), listrik (1,83%), perlengkapan mandi (1,14%) dan biaya pendidikan sebesar 1,07%. (msa/idh)