Gubernur WH, Inovatif Bidang Infrastruktur dan Pembangunan

0
34
Gubernur WH meraih penghargaan Kepala Daerah Inovatif 2019 Bidang Infrastruktur dan Pembangunan.

Gerak dan langkah Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) dalam membangun Provinsi Banten mendapatkan apresiasi dalam Malam Penghargaan Kepala Daerah Inovatif di Kantor Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Kamis malam (22/8/2019).

Gubernur WH meraih penghargaan Kepala Daerah Inovatif 2019 Bidang Infrastruktur dan Pembangunan. Penghargaan diserahkan oleh Dirjen Otda Kemendagri Akmal Malik.

”Ini menjadi motivasi pemicu diri saya untuk terus membangun infrastruktur di Banten ke arah yang lebih baik lagi. Karena melalui infrastruktur yang baik dan berkualitas, maka akan mengangkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” sambut Gubernur WH usai menerima penghargaan bersama dengan 26 kepala daerah lainnya berikut bupati dan walikota se-Indonesia.

Disampaikan, penghargaan ini menjadi salah satu bukti bahwa pembangunan di Banten mulai dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Seperti revitalisasi kawasan Masjid Banten Lama yang merupakan ikon Ibu Kota Banten, pembangunan jalan provinsi yang kini tersisa 16 kilometer menuju jalan mantap, hingga membuka akses jalan pada jalur-jalur terisolir sekaligus pariwisata seperti kawasan Negeri Diatas Awa, Citorek, Kabupaten Lebak.

Gubernur WH juga menegaskan, sesuai dengan target pembangunan infrastruktur pada RPJMD 2017-2022, jalan provinsi mantap akan rampung pada tahun 2020. Setelah itu, provinsi akan turut membantu kabupaten/kota dalam membehani infrastruktur jalan desa dan kotanya.

Dalam video trailer diungkap alasan terpilihnya Gubernur WH sebagai Kepala Daerah Inovatif 2019 Bidang Infrastruktur dan Pembangunan.

“Tokoh yang satu ini telah berhasil merubah wajah Banten Lama menjadi Madinah-nya Indonesia, Kawasan Kesultanan Banten Lama telah direvitalisasi menjadi ikon Banten bahkan Indonesia.”

“Tak henti di situ, Wahidin Halim terus membangun infrastruktur Banten, membelah dan membuka kawasan terpencil di Banten, perekonomian rakyat terus meningkat sehingga Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) telah mencabut Kabupaten Lebak dan Pandeglang dari status daerah tertinggal, kini di Provinsi Banten sudah tidak ada lagi wilayah daerah tertinggal.”

“Tak hanya cukup sampai di situ saja, tahun ini ia membelah jalan yang menghubungkan Utara Selatan Banten bahkan jalan yang selama ini tak pernah tersentuh, jalan menuju Negeri di Atas Awan,” Demikian diungkapkan dalam Video Trailer (VT) yang tayang dalam layar besar pada saat sebelum Gubernur Banten naik ke atas pentas untuk menerima penghargaan.”

Sementara itu dalam sambutannya, MNC Group Pemred Koran Sindo dan Sindonews, Jaka Susila mengatakan penganugerahan penghargaan kepada para kepala daerah se Indonesia ini telah berlangsung sejak masa otonomi daerah diterapkan di Indonesia, hal ini menjadi perhatian grup media kami dalam mengikuti berbagai gerak langkah pembangunan di setiap Daerah, sehingga Sindo terus mengikuti perkembangan kemajuan daerah, terutama cara para kepala daerah mengelola roda pemerintahannya.

Membangun Daerah Perbatasan – Ruas jalan Cipanas-Warung Banten merupakan salah satu ruas jalan yang menghubungkan Provinsi Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Menjadi akses jalan bagi masyarakat Serang, Lebak, Tangerang di Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Bogor Jawa Barat

Membangun Daerah Perbatasan

“Hubungan kerjasama antara Provinsi Banten dengan daerah-daerah perbatasannya yakni Jawa Barat dan DKI Jakarta harus terus ditingkatkan dan menjadi prioritas program pembangunan,” ungkap Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) saat menutup Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah Perbatasan (Musrenbangtas) dan Penandatanganan MoU antara Banten dan Jabar di Hotel Aryaduta, Kota Tangerang (6/3/2019).

“Masyarakat yang berada di wilayah perbatasan antara ketiganya sangat membutuhkan perhatian. Khususnya dalam urusan pelayanan dasar yakni pendidikan, kesehatan dan infrastruktur,” tambahnya.

Dijelaskan, melihat hubungan kerjasama perbatasan dari perspektif Pemprov Banten sebagai tanggung jawab dan wewenang yang harus dipikul bersama. Karena, perbatasan di wilayah NKRI tidak sama dengan negara federasi yang hanya melayani masyarakat di wilayahnya saja.

“Kita tidak bisa menghalangi warga perbatasan bersekolah di wilayah Banten, atau sekedar berobat atau lainnya. Dalam konteks ini, daerah perbatasan harus berfikir bahwa semua warga Indonesia harus kita layani,” jelas Gubernur WH.

“Selama ini orang Cilograng, Bayah (Banten) banyak berobat ke Sukabumi (Jawa Barat). Makanya saya buat rumah sakit di sana. Biar orang Sukabumi bisa berobat ke Banten,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Gubernur WH, persoalan mendasar lainnya yang membutuhkan kerjasama antar daerah perbatasan adalah kualitas infrastruktur jalan dalam upaya konektivitas jalur perbatasan yang lebih memadai.

“Karena hal tersebut akan mempengaruhi efektifitas pelayanan publik, akses publik memperoleh pelayanan,” tambahnya.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi antar wilayah perbatasan juga akan semakin meningkat mengingat potensi yang dimiliki baik Banten, DKI Jakarta maupun Jawa Barat sangat melimpah dan saling membutuhkan satu sama lain.

“Banten dan Jabar itu persoalan utamanya adalah infrastruktur jalan dan harus jadi perhatian. Karena tidak pernah selesai dari dulu sampai sekarang. Beruntung Tangerang ada (berbatasan dengan) Jakarta. Bukan karena peran APBD tapi karena peran swasta membangun,” ujarnya.

Dijelaskan, Banten memiliki begitu banyak potensi luar biasa baik di darat, laut, maupun udara. Ada 13 proyek strategis nasional yang hampir selesai. Sebanyak 67 persen jalan tol sudah terbangun, progres 70 persen pembangunan Waduk Karian, dan sejumlah proyek lain yang perlu didukung dengan program pemerintah daerah.

“Pembangunan yang difokuskan ke wilayah Banten Selatan tersebut bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menghilangkan ketimpangan antara wilayah utara dengan selatan,” tegas Gubernur Banten.

“Hanya infrastruktur yang belum pernah ditingkatkan khususnya jalan nasional, untuk kewenangan pemerintah daerah ayo kita perbaiki dan bangun bersama agar ada konektivitas kawasan yang satu dengan yang lain. Ketimpangan antara wilayah Banten utara dengan selatan akan terkikis. Oleh karenanya, Jakarta, Jabar dan Banten ini daerah paling menarik untuk invetasi di Indonesia. Banten, walaupun luasnya tidak seluas Jabar, tapi saya ingin Banten lebih baik lagi kedepan,” tutup Gubernur.

Sementara itu Kepala Bappeda Banten Muhtarom mengatakan, MoU dan tindak lanjut perjanjian kerjasama antar OPD masing-masing daerah telah dilakukan sebelumnya. Ada 18 urusan kerjasama pembangunan antara Jawa Barat-Banten dalam kurun waktu 3 tahun yakni 2020-2022.

Ke-18 urusan tersebut diantaranya meliputi kesehatan, pendidikan, sosial, trantibumlinmas, perumahan dan permukiman, pariwisata, KUK, perdagangan, pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan, penataan ruang, lingkungan hidup, perhubungan, pekerjaan umum, kebudayaan, pemberdayaan masyarakat dan desa serta perencanaan.

Ada tiga kabupaten/kota Provinsi Bantenyang berbatasan. Kota Tangerang Selatan dengan Kota Depok dan Kabupaten Bogor. Kabupaten Tangerang dengan Kabupaten Bogor. Kabupaten Lebak dengan Kabupaten Sukabumi.

Pada aspek pendidikan, banyak warga Bogor bersekolah di Tangsel. Warga Lebak juga banyak bersekolah di Sukabumi karena jarak lebih dekat.

Dalam pembahasan sebelumnya, Provinsi Banten maupun Provinsi Jawa Barat sama-sama ingin mengembangkan wilayah selatan, jalan akses sampai Pelabuhan Ratu. Dari Banten ada tol Serang – Panimbang. Jika disepakati nantinya akan tersamambung.

Di Kota Tangsel dengan Kabupaten Bogor juga ada jalan khusus untuk pengambilan batu dari gunung Sindur. Sehingga tidak menimbulkan kemacetan.

Dari Musrenbangtas, selanjutnya dilakukan MoU untuk dituangkan ke dalam RKPD Provinsi Banten maupun Provinsi Jawa Barat.

Bangun Jalan Provinsi

Ruas jalan Cipanas – Warung Banten merupakan salah satu ruas jalan yang menghubungkan Provinsi Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Menjadi akses jalan bagi masyarakat Serang, Lebak, Tangerang di Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Bogor Jawa Barat.

Sebagai implementasi atas komitmen Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy yang tertuang dalam visi misi dan RPJMD terkait peningkatan kualitas infrastruktur jalan, pada tahun ini Gubernur membangun ruas jalan Cipanas-Warung Banten yang sebelumnya rusak dan berbatu.

“Tidak hanya membuka aksea jalan masyarakat antar kabupaten/kota dan provinsi, jalur ini juga dijadikan sebagai akses menuju kawasan Wisata Negeri Diatas Awan yang berada di Kecamatan Citorek, Kabupaten Lebak yang kini tengah digandrungi masyarakat sebagai destinasi wisata alam,” ungkap Gubernur WH.

Dijelaskan, ruas jalan Cipanas- Warung Banten sebelumnya merupakan jalan milik PT. Antam yang berlokasi di Cikotok. Sekitar penghujung 2015 silam, PT. Antam tidak lagi beroperasi dan kemudian asetnya diserahkan ke Pemerintah Provinsi Banten. Kawasan yang berada tepat di bawah kaki gunung Halimun Salak ini sebelumnya sempat dibangun pada saat jaman penjajahan.

Aset lain PT Antam yang diserahkan ke Pemprov Banten adalah kantor Antam Cikotok diserahkan ke SMKN 1 Cikotok.

“Bisa memudahkan akses warga Lebak selatan jika ingin bepergian ke Rangkasbitung yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Lebak, juga wilayah lainnya seperti ke Serang termasuk ke Tangerang dan Jakarta lebih mudah. Bahkan daerah ini dekat ke Kabupaten Bogor,” paparnya.

Diharapkan, dengan adanya pembangunan ini dapat memberikan dampak positif pada peningkatan kualitas hidup maayarakat secara ekonomi dan sosial. Bahkan lebih jauh, Gubernur WH berharap pembangunan ruas jalan tersebut dapat menciptakan peradaban baru bagi masyarakat Kabupaten Lebak pada pengembangan kawasan wisata alam yang mempesona dan menarik banyak mata masyarakat luar Banten.

“Baduy juga dikenal dengan konsistensinya dalam menjaga alam dan lingkungan, saya harap semangat itu juga tumbuh di sekitar kawasan wisata Negeri Diatas Awan,”imbuhnya.(msa/ayu)