Dua Prestasi dari Swasembada Jagung

0
96

Tahun 2018, Provinsi Banten berhasil swasembada jagung. Keberhasilan ini jadikan Banten mampu suplai kebutuhan nasional. Keberhasilan ini pula yang membawa Kabupaten Pandeglang menjadi percontohan nasional untuk Program Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) dengan produksi jagung sebagai komoditas utama.

Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pertanian, merealisasikan program upaya khusus (upsus) subsektor tanaman pangan padi, jagung dan kedelai (pajale) sejak tahun 2014 lalu.

Program strategis nasional yang dicanangkan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Provinsi Banten dimulai dengan tanaman pangan padi sejak tahun 2015 dan tahun 2016. Tahun 2017 dilanjutkan tanaman jagung dan tahun 2018 tanaman kedelai.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid menjelaskan, realisasi program upaya khusus (upsus) subsektor tanaman pangan jagung tahun 2015 belum dimulai. Tahun 2015 masih fokus pada tanaman padi, 2016 masih padi dan 2017 jagung mulai digencarkan secara nasional, termasuk Banten.

“Tetapi tidak meninggalkan tanaman padi,” tegasnya.

Agus menyebutkan, tanaman jagung menjadi pertimbangan presiden. Menurutnya, Banten salah satu daerah unggulan nasional. “Pertama alasannya, hampir 50 persen industri pakan ternak secara nasional berada di Provinsi Banten. Konsekuensi logisnya, kebutuhan pakan sebagai bahan baku dalam setahun sekitar 1,7 juta ton atau kebutuhan perharinya 4.500 ton,” tutur Agus saat ditemui di ruang kerjanya.

Kondisi eksisting Banten sebelum 2017, lanjut Agus, produksi hanya 20 ribu ton. Paling hebat 30 ribu ton per-tahun. “Tahun 2017 jagung pergerakannya sangat dinamis sekali, hampir saling tawar menawar. Kementan minta 200 ribu hektare awal untuk target, ya kami olah tanam 200 ribu hektare,” ungkapnya.

“Beberapa kali revisi, menteri menyatakan Banten target 87 ribu hektare dan target tersebut bisa kami capai 82 ribu hektare. Target detailnya itu 87,216 hektare dan terealisasi 82.011 hektare, ini angka yang hebat sekali dan ternyata angka peningkatan produksi dihitungnya di tahun 2018,” tambahnya.

Menurut data BPS, perbandingan capaian awal 2017 produksi Provinsi Banten tahun itu mencapai 63,518 ribu ton. Pada 2018 angka ramalan II BPS produksi jagung Banten 210.556 ribu ton. “Angka produksi 2018 Aram II belum sampai atap, kalau atap mungkin lebih tinggi lagi. Dimana angka target kami di tahun 2018 ada peningkatan 90 ribu hektare yang sekarang masih ada proses penanaman. Ada sisa yang belum kita capai dan masih dalam tanaman. Sehingga, bisa bandingkan pencapain 2018 dibandingkan dengan 2017, peningkatan produksinya 231,49 persen,” ungkapnya.

Dalam hal ini, Dinas Pertanian Provinsi Banten selalu diingatkan oleh Gubernur Banten Wahidin Halim dalam capaiannya.

“Makanya harus diakui, 2017 hentakan awal petani di Banten dipaksa. Proses itu kami (Distan) selalu diingatkan oleh Pak Gubernur (Wahidin Halim), tolong Pak Agus perhatikan hilirnya, tolong perhatikan hilirnya” ucap Agus. Melalui program upsus padi, jagung dan kedelai (pajale) ini, Banten mampu memenuhi seluruh kebutuhan pakan ternak lokal Banten. Lahan tanam jagung mencapai 90 ribu hektare. “Tahun 2018 itu luas tanam jagung dari bulan Maret sampai November yaitu 76,7090 ribu dari target 90 ribu hektare. Desember belum kami hitung sampai Januari 2019, dan bisa kami capai dari 90 ribu hektare. Sisa tanaman 13,295 ribu akan panen di bulan Februari 2019 seperti di Kecamatan Jawilan (Kab. Serang) di Gunung Kencana (Kab. Lebak) dan Pandeglang,” jelasnya. Luasnya areal pertanian jagung tersebut mampu menghasilkan produksi yang melimpah. Saat ini telah berdiri pabrik pengolah pakan ternak di Banten yang bersedia membeli hasil jagungnya.

Setalah didata, Banten mendapatkan kuota impor jagung untuk industri peternakan mikro layer itu 10 ribu ton, ternyata yang terserap tidak mencapai 500 ton. Peternak tidak menyerap jagung impor di Pandeglang karena sudah tercukupi. Untuk di Serang Utara mereka menunggu panen raya di bulan Februari 2019. “Ini makanya bahwa pertanaman jagung Itu bagus. Perusahaan Charoen Pokphand sudah kerjasama dengan petani jagung, jadi Charoen Pokphand akan membeli jagung basah, dikarenakan Pokphand sudah memiliki dryer yang kapasitasnya perhari 200 ton, bahkan Pokphand sudah menyiapkan dryer yang kapasitas perharinya 2.500 ton,” papar Agus. “Berarti industri swasta sudah mengantisipasi pergerakan petani jagung untuk mendukung industri pakan ternak,” tegasnya.

Prukades Produksi Jagung Pemprov Banten pun terus berupaya menyalurkan bantuan mesin pengering jagung, sehingga petani bisa menjual jagungnya dengan harga yang lebih tinggi jika dalam kondisi kering. “Tahun 2018 kami sampaikan ke Kementerian Pertanian, sesaui arahan Pak Gubernur, 2018 bantuan alat (dryer) dan sebagainya terus kami tambah. Dan di 2018 kami memiliki kawasan korporasi. Korporasi berbasis jagung di Gunung Kencana (Kabupaten Lebak) luas 1000 hektare dengan alat dryer-nya, alat pengering-nya juga kita alat kikir-nya, gudang-nya, irigasi-nya sampai dibangun embung dan sebagainya,” papar Agus. Selain itu, menurut Kadistan Banten, Banten menjadi percontohan bagi Kementerian Desa.

Salah satu desa di Banten menjadi percontohan percepatan pembangunan desa. “Kemarin saat rapat kerja nasional, desa di salah satu Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten menjadi percontohan prukades jagung di Indonesia yang termasuk berhasil. Artinya dalam arti berhasil di sini dalam dukungan BUMDes dan perekonomian dari rakyatnya,” tutur Kadistan. Ia tegaskan, intinya Pandeglang menjadi percontohan pemberdayaan masyarakat desa dari jagung.

“Jadi jagung di wilayah Pandeglang itu dikeroyok oleh BUMDes-nya, menambah ADD desanya” tambahnya. Agus memaparkan kembali, luas perkembangan perkebunan jagung di Pandeglang sekitar 50 ribu hektare dengan produksi di awal tahun 2017 mencapai 5 ton per-hektar ini dari estimasi 250.00 ribu ton. “Berarti kalau harga jagung saja diambil 1 kilo Rp.3000 rupiah, itu berarti estimasi pendapatan mencapai 750 miliar. Jika bisa dua kali panen dalam setahun jagung ini, maka mengahasilkan 1,5 triliun untuk ekonomi jagung,” paparnya. (MenaraBanten))

Keterangan Poto : Gubernur Banten Wahidin Halim melakukan gerakan panen jagung bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Mekar Desa Pudar, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Rabu (24/01/2017).